Breaking News
You are here: Home / SPIP / Risiko Operasional Pada Organisasi Pemerintahan

Risiko Operasional Pada Organisasi Pemerintahan

Warkop Mania….

Sudah lama kita tidak mendiskusikan kembali mengenai menu kopi yang relatif baru ini. Ya, penerapan manajemen risiko pada organisasi sektor publik memang masih relatif baru. Bahkan bisa dikatakan masih mencari bentuknya yang ideal tentang bagaimana konsep manajemen risiko tersebut akan diterapkan. Meskipun PP Nomor 60 Tahun 2008 telah berusia hampir setengah dekade, namun sampai saat ini belum ada praktek terbaik (best practice) mengenai penerapan manajemen risiko pada organisasi sektor publik yang terdokumentasi secara baik. Apakah Anda setuju dengan pendapat kami? Dalam konteks tersebut, maka kami mengajak Anda berdiskusi dalam forum ini mengenai penerapan manajemen risiko pada organisasi sektor publik (Catatan: PP Nomor 60 Tahun 2008 tidak mengenal istilah manajemen risiko tetapi menggunakan istilah penilaian risiko).

Organisasi sektor publik atau lebih dikenal dengan istilah instansi pemerintah dibentuk dengan misi-misi yang telah ditentukan sesuai peraturan perundang-undangan. Instansi pemerintah tersebut meliputi kementerian, lembaga nondepartemen, dan pemerintah daerah (pemerintah provinsi, pemerintah kota, dan pemerintah kabupaten). Instansi-instansi pemerintah tersebut memiliki satuan kerja/unit kerja di bawahnya untuk mendukung terlaksananya misi yang diembannya. Misi organisasi pemerintah tersebut kemudian dijabarkan secara jelas melalui rumusan tujuan dan sasaran serta strategi untuk mencapainya dalam dokumen perencanaan stratejik. Nah, dalam upaya mencapai tujuan dan sasaran tersebut tentu akan berhadapan dengan risiko operasional. Risiko operasional merupakan risiko tertua di dunia dan senantiasa dihadapi oleh sebuah organisasi.

Apakah risiko operasional itu? Mengambil definisi umum dari praktek manajemen risiko di sektor privat, risiko operasional adalah risiko kerugian langsung atau tidak langsung dari ketidakmemadaian atau kegagalan proses internal, manusia, dan sistem, atau dari peristiwa eksternal. Kalau kita pilah-pilah, risiko operasional meliputi risiko proses internal, risiko manusia, risiko sistem, dan risiko peristiwa eksternal.

Dengan mengutip tulisan James Lam (Enterprise Risk Management), kami akan mengetengahkan penjelasan untuk setiap jenis risiko operasional tersebut. Risiko proses internal terjadi karena proses yang tidak efektif atau tidak efisien. Ketidakefektifan proses dapat didefinisikan sebagai kegagalan dalam mencapai sasaran, sedangkan ketidakefisienan proses merupakan pencapaian sasaran tetapi dengan menghabiskan biaya secara berlebihan. Terkadang memang terdapat konflik alami antara keduanya. Oleh karenanya harus dicapai keseimbangan antara proses efektif dan efisien. Risiko manusia biasanya diakibatkan dari keterbatasan staf, inkompetensi, ketidakjujuran, atau budaya organisasi yang tidak menumbuhkan kesadaran risiko. Risiko sistem terjadi karena kegagalan sistem yang meliputi ketersediaan sistem, integritas data, kapasitas sistem, akses, dan penggunaan yang tidak sah, serta pemulihan bisnis proses organisasi dari berbagai kemungkinan. Risiko peristiwa eksternal adalah risiko kerugian akibat satu peristiwa yang kecil kemungkinannya terjadi, tetapi dapat memiliki konsekuensi serius jika terjadi seperti kecurangan internal/eksternal, kegagalan sistem, dan bencana alam atau bencana yang disebabkan manusia.

Pada kesempatan kali ini, Anda akan kami ajak mendiskusikan mengenai risiko proses internal. Salah satu bentuk risiko proses internal yaitu risiko mengambil strategi yang salah atau risiko gagal melaksanakan strategi yang benar. Mengapa strategi? Karena strategi organisasi penting sekali terhadap keberhasilan pencapaian tujuan/sasaran organisasi itu sendiri. Dalam membahas risiko proses internal, kita tidak akan lepas dari membahas jenis risiko operasional lainnya seperti risiko manusia, risiko sistem, dan risiko peristiwa eksternal. Mereka saling terkait satu sama lainnya.

Dalam konsep SAKIP, strategi didefinisikan sebagai cara, upaya, atau kiat tertentu untuk mencapai tujuan/sasaran. Strategi dimanifestasikan dalam bentuk penetapan kebijakan yang memberikan arah bagi penciptaan program dan kegiatan yang akan dilaksanakan. Pemilihan kebijakan dan seperangkat program/kegiatan yang tepat akan meminimalisasi risiko operasional. Namun demikian, pemilihan strategi yang benar juga masih akan menimbulkan risiko apabila gagal dilaksanakan. Kegagalan dalam melaksanakan strategi yang benar tersebut dapat disebabkan oleh adanya risiko manusia, risiko sistem, dan/atau risiko peristiwa eksternal. Contoh berikut ini semoga dapat memberikan pemahaman kepada Anda.

Sebuah organisasi pemerintah yang memiliki misi untuk menjaga kelestarian hutan telah menetapkan sasaran antara lain menurunnya kawasan hutan lindung yang gundul. Nah, kira-kira strategi apa yang akan ditempuhnya? Strategi yang tepat barangkali adalah merumuskan suatu kebijakan antara lain membuat peraturan daerah yang melarang siapapun untuk melakukan kegiatan dalam bentuk apapun yang dapat mengakibatkan “kepunahan” hutan lindung seperti pembalakan liar. Kebijakan lainnya yang dapat diambil yaitu melakukan pengawasan secara intensif terhadap kawasan hutan lindung sebagai konsekuensi pemberlakuan peraturan daerah tersebut. Kebijakan lainnya yang tak kalah penting adalah melakukan penanaman kembali pada kawasan hutan lindung yang gundul. Dan akan masih banyak lagi kebijakan-kebijakan lainnya yang dapat diambil agar sasaran tersebut dapat dicapai. Kebijakan-kebijakan yang diambil tersebut akan memberikan arah bagi para perencana pembangunan tentang program dan kegiatan apa yang mesti diciptakan dan yang harus dilaksanakan nantinya. Sebagai contoh, untuk kebijakan yang dipilih terakhir, pemerintah daerah dapat menciptakan suatu program/kegiatan gerakan rehabilitasi hutan berupa penanaman kembali tanaman di kawasan hutan yang gundul.

Masalahnya, strategi yang tepat berupa penetapan kebijakan penanaman kembali kawasan hutan yang gundul tersebut dapat gagal dilaksanakan karena faktor manusia pelaksana program/kegiatan tersebut. Dalam praktek, biasanya kegiatan pengadaan benih tanaman ditempuh melalui proses pelelangan umum dan pelaksanaan penanamannya diswakelolakan kepada kelompok masyarakat. Risiko manusia muncul ketika terjadi ketidakjujuran penyedia barang yang menyediakan bibit tanaman yang tidak bersertifikat (tidak berkualitas) dan kelompok masyarakat yang tidak menguasai teknik penanaman secara tepat sehingga mengakibatkan kematian tanaman. Setelah ditanam dan sekian lama tumbuh, risiko peristiwa eksternal dapat saja terjadi misalnya kejadian kebakaran yang melanda kawasan hutan yang telah ditanami kembali tersebut. Jadi?

Ya, manajemen risiko harus mampu mengidentifikasi risiko-risiko operasional hingga ke daftar yang demikian rincinya dan selanjutnya melakukan analisis terhadap risiko-risiko yang teridentifikasi. Analisis risiko meliputi pengukuran atas frekuensi terjadinya risiko dan besaran dampak yang timbul apabila risiko tersebut benar terjadi, termasuk kaitan terjadinya suatu risiko terhadap risiko lainnya. Setelah itu diperlukan tindakan lebih lanjut untuk mengatasi atau mengelola risiko-risiko tersebut hingga ke level yang dapat diterima (acceptable risk). Dalam hal ini juga termasuk menyiapkan contingency plan untuk mengantisipasi gagalnya skema manajemen risiko yang telah diterapkan (manajemen krisis).

Warkop Mania…Jadi, apa saran Anda agar risiko pemilihan strategi yang salah atau risiko gagal melaksanakan strategi yang benar tidak terjadi? Sampai jumpa pada diskusi kita berikutnya mengenai manajemen risiko.

Salam Warkop

Incoming search terms:

Risiko Operasional Pada Organisasi Pemerintahan
0 votes, 0.00 avg. rating (0% score)

About Eko Hery Winarno

Penulis, auditor, dan konsultan

0 comments on “Risiko Operasional Pada Organisasi Pemerintahan

  1. Fitri Paulina Andriani, Inspektorat Kota Yogyakarta on said:

    Dalam penerapan SPIP memang unsur penting yang menjadi dasar implementasi, di samping unsur lingkungan pengendalian adalah unsur penilaian resiko. Dalam penilaian resiko akan diketahui resiko melekat apa saja yang sebetulnya dipunyai suatu organisasi dalam operasional proses bisnisnya. Dengan mengetahui resiko yang dipunyai, seberapa besar kemungkinan terjadinya dan dampak yang ditimbulkannya, maka dapat membantu pimpinan organisasi untuk merencanakan strategi pengendalian yang tepat atas resiko tersebut. Sebenarnya resiko tidak hanya bersifat internal tetapi juga ada resiko eksternal, jadi akan lebih baik kalau bisa diketahui juga resiko yang bersifat eksternal melalui aktivitas penilaian resiko. Untuk dapat memahami resiko dengan lebih detail sebenarnya harus dibedakan antara pernyataan resiko, penyebab resiko dan dampak resiko. Pernyataan resiko bisa disintesakan dengan pendekatan waktu, kualitas dan keamanan. Kemudian dari penyebab resiko bisa dideteksi secara internal dengan 5M (man, money, material, machine, method) dan secara eksternal dengan ipoleksosbudhankam dan alam. Yang terakhir harus diidentifikasi dampak dari suatu resiko yang dapat disintesakan berdasarkan pendekatan finansial, kinerja dan reputasi. Sebagai contoh : dalam proses penerimaan aduan masyarakat, maka pernyataan resikonya dari pendekatan waktu adalah “surat aduan masyarakat terlambat dicatat dalam register” kemudian dari pendekatan kualitas “pencatatan aduan dalam register salah” dan dari pendekatan keamanan “surat aduan hilang”. Penyebab dari resiko keterlambatan dan kesalahan pencatatan dalam register misalnya petugas penerima aduan tidak cermat dan belum ada SOP yang mengatur penerimaan surat aduan. Dampak dari kelambatan dan kesalahan pencatatan dalam register serta hilangnya surat aduan misalnya timbulnya ketidakpuasan dari masyarakat, dalam hal ini telah menyangkut reputasi organisasi. Dari hasil deteksi resiko melekat yang dilakukan secara detail tersebut akan diketahui potensi resiko yang dipunyai dalam suatu organisasi. Kemudian langkah selanjutnya adalah mereviu pengendalian apa yang sudah dilakukan terkait potensi resiko tersebut. Dengan pengendalian yang sudah ada apakah terdapat pengaruh signifikan dalam mengurangi kemungkinan terjadinya dan dampak resiko yang ditimbulkan. Jika resiko tersebut masih terjadi maka harus direncanakan strategi baru atau penyempurnaan dari aktivitas pengendalian yang telah ada. Dengan melakukan proses penilaian secara runtut dan detail maka kemungkinan terjadinya kesalahan penetapan strategi operasional bisa diminimalkan.

    • Tq atas sharingnya Bu Fitri,,
      Secara tdk langsung Anda telah melanjutkan tulisan tersebut…..
      Kami tunggu tulisan ibu secara lengkap utk kami hadirkan di blog kita tercinta ini
      Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

17,787 Spam Comments Blocked so far by Spam Free Wordpress

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Murad Reviews
Exposed Skin Care Reviews
How To Get Rid Of Stretch Marks Fast
Proactive Reviews
How To Get Rid Of Acne
How To Get Rid Of Stretch Marks
How To Get Rid Of Blackheads
how do i get rid of stretch marks
How To Make Stretch Marks Go Away
How To Get Rid Of Stretch Marks On Breasts
Stretch Marks After Pregnancy
How To Prevent Stretch Marks During Pregnancy
How to Get Rid of Stretch Marks
Scroll To Top
shared on wplocker.com